Pencemaran Air Akibat Industri Sepatu Kulit

Nama : Devi Kurniasih
NPM  : 51211931
Kelas : 1DF01
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Air biasanya disebut tercemar ketika terganggu oleh kontaminan antropogenik dan ketika tidak bisa mendukung kehidupan manusia, seperti air minum, dan/atau mengalami pergeseran ditandai dalam kemampuannya untuk mendukung komunitas penyusun biotik, seperti ikan. Fenomena alam seperti gunung berapi, algae blooms, badai, dan gempa bumi juga menyebabkan perubahan besar dalam kualitas air dan status ekologi air.
Kulit di Indonesia merupakan bahan eksport non migas yang penting sebagai penyumbang devisa ke 4 setelah produk makanan,minuman,peralatan tranportasi,alat mesin,pupuk kimia dan karet tetapi industri kulit juga menghasilkan limbah bahan kimia yang sangat merugikan terhadap lingkungan dan makhluk hidup. Limbah yang di hasilkan dari industri ini juga menimbulkan bau yang sangat menyengat oleh adanya pembusukan berbagai sisa kulit dan daging terutama lemak dan protein, serta limbah cair yang mengandung sisa bahan penyamak kimia seperti sodium sulfida,khrom,kapur dan amoniak. Limbah cair tersebut juga mempunyai biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD) yang sangat tinggi, sehingga dapat mengganggu kelestarian lingkungan dan makhluk hidup di lokasi pembuangan limbah-limbah. Instalasi Penanganan Air Limbah (IPAL) yang telah di bangun ternyata belum mampu menangani masalah limbah mengingat besarnya biaya untuk pengoperasian IPAL tersebut . Keadaan inilah yang menyebabkan pencemaran berlangsung terus dan bahkan cenderung makin meningkat.Peningkatan pencemaran ini diperburuk oleh rendahnya tingkat kesadaran para industriawan dan rendahnya penegak hukum oleh aparat. Kulit pada umumnya masih menggunakan bahan penyamak kimia. Berdasarkan permasalahan tersebut dan dalam upaya mengimplementasikan issue global tentang produk bersih atau cleaner production, maka perlu dicari alternatif solusi paling tidak dapat mengurangi dampak yang di timbulkan. Salah satu alternatif tersebut adalah mengimplementasikan teknologi penyamakan kulit ramah lingkungan dengan menggunakan senyawa katalisa yang disebut enzim atau biokatalisa.                       Selama proses penyamakan, senyawa non kolagen harus dihilangkan dan tingkat penghilangan senyawa non-kolagen ini menentukan kualitas kulit untuk itu penambahan enzim sangat diperlukan untuk mempermudah proses penyamakan dan penambahan enzim juga dapat mengurangi bahan kimia yang digunakan. Penerapan penyamakan dengan menggunakan enzim sebenarnya sudah pula diterapkan, yaitu dengan menggunakan bahan-bahan tambahan kulit tumbuh-tumbuhan bakau tetapi hal ini berdampak buruk terhadap kelestarian hutan bakau.
Kesimpulannya : limbah dari industri sepatu meghasilkan bau tidak sedap dan dapat mengganggu warga di sekitar pabrik hal ini terjadi karna adanya pembusukan dari sisa kulit tersebut, akan tetapi ada solusi untuk mengurangi dampak ini dengan mengimplementasikan teknologi penyamakan kulit ramah lingkungan dengan menggunakan senyawa katalisa.

FENOMENA KEJADIAN ALAM EL NINO & LA NINA

Nama : Devi Kurniasih
NPM  : 51211931
Kelas  : 1DF01

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, telah terjadi perubahan iklim yang sangat terasa di bumi. Hal ini sangat berpengaruh pada alam dan aktivitas manusia. Salah satunya adalah terdapat anomali suhu yang mencolok, yang mengakibatkan banyak terjadinya fenomena alam seperti terjadinya peristiwa El Nino dan La Nina.
Peristiwa El Nino dan La Nina merupakan gejala alam yang tak bisa dihilangkan tetapi hanya bisa dihindari. Banyak sekali dampak dan pengaruh peristiwa El Nino dan La Nina di dalam aktivitas dan kehidupan manusia juga di alam.
El Nino dan La Nina adalah merupakan dinamika atmosfer dan laut yang mempengaruhi cuaca di sekitar laut Pasifik. El Nino merupakan salah satu bentuk penyimpangan iklim di Samudera Pasifik yang ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut di daerah katulistiwa bagian tengah dan timur.


 Sebagai indikator untuk memantau kejadian El Nino, biasanya digunakan data pengukuran suhu permukaan laut pada bujur 170°BB - 120°BB dan lintang 5°LS - 5°LU, dimana anomali positif mengindikasikan terjadinya El Nino. Dan fenomena La Nina ditandai dengan menurunnya suhu permukaan laut pada bujur 170°BB - 120°BB dan pada lintang 5°LS - 5°LU dimana anomali negatif, sehingga sering juga disebut sebagai fase dingin. Kedua fenomena di perairan pasifik ini memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupan manusia. Adapun faktor penyebabnya , yaitu :
  • Anomali suhu yang mencolok di perairan samudera pasifik.
  • Melemahnya angin passat (trade winds) di selatan pasifik yang menyebabkan pergerakan angin jauh dari normal.
  • Kenaikan daya tampung lapisan atmosfer yang disebabkan oleh pemanasan dari perairan panas dibawahnya. Hal ini terjadi di perairan peru pada saat musim panas.
  • Adanya perbedaan arus laut di perairan samudera pasifik.

Pada bulan desember, posisi matahari berada di titik balik selatan bumi, sehingga daerah lintang selatan mengalami musim panas. Di Peru mengalami musim panas dan arus laut dingin Humboldt tergantikan oleh arus laut panas. Karena kuatnya penyinaran oleh sinar matahari perairan di pasifik tengah dan timur, menyebabakan meningkatnya suhu dan kelembapan udara pada atmosfer. Sehingga tekanan udara di pasifik tengah dan timur rendah, yang kemudian yang diikuti awan-awan konvektif (awan yang terbentuk oleh penyinaran matahari yang kuat). Sedangkan di bagian pasifik barat tekanan udaranya tinggi yaitu di Indonesia (yang pada dasarnya dipengaruhi oleh angin musoon, angin pasat dan angin lokal. Akan tetapi pengaruh angin munsoon yang lebih kuat dari daratan Asia), menyebabkan sulit terbentuknya awan. Karena sifat dari udara yang bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah. Menyebabkan udara dari pasifik barat bergerak ke pasifik tengah dan timur. Hal ini juga yang menyebabkan awan konvektif di atas Indonesia bergeser ke pasifik tengah dan timur.

Sedangkan La Nina sebaliknya dari El Nino, terjadi saat permukaan laut di pasifik tengah dan timur suhunya lebih rendah dari biasanya pada waktu-waktu tertentu. Dan tekanan udara kawasan pasifik barat menurun yang memungkinkan terbentuknya awan. Sehingga tekanan udara di pasifik tengah dan timur tinggi, yang menghambat terbentuknya awan. Sedangkan di bagian pasifik barat tekanan udaranya rendah yaitu di Indonesia yang memudahkan terbentuknya awan cumulus nimbus, awan ini menimbulkan turun hujan lebat yang juga disertai petir. Karena sifat dari udara yang bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah. Menyebabkan udara dari pasifik tengah dan timur bergerak ke pasifik barat. Hal ini juga yang menyebabkan awan konvektif di atas pasifik ttengah dan timur bergeser ke pasifik barat.
Dampaknya peristiwa ini pada alam, yaitu:    
* Naiknya tekanan udara di pasifik tengah dan timur saat El Nino, menyebabkan pembentukan awan yang intensif. Hal ini yang menjadikan curah hujan yang tinggi di kawasan pasifik tengah dan timur. Sedangkan sebaliknya, di daerah pasifik barat terjadi kekeringan yang jauh dari normal. 
* Turunnya tekanan udara di pasifik tengah dan timur saat La Nina, menjadi hambatan terbentuknya awan di daerah ini, sehingga mengalami kekeringan. Sedangkan sebaliknya, di daerah pasifik barat curah hujan sangat tinggi. Hal ini menimbulkan banjir yang parah di Indonesia, dan dampak nya pada manusia adalah meningkatnya suhu permukaan laut yang biasanya dingin di perairan mengakibatkan perairan subur akan tetapi menjadi sebalik nya dan menyebabkan nelayan kesulitan mendapatkan ikan di laut.
Jadi ,Peristiwa El Nino dan La Nina merupakan fenomena alam yang terjadi di peairan samudera pasifik. Yang kedua-duanya menyebabkan bencana pada daerah di sekitar perairan samudera pasifik. Daerah satu mengalami curah hujan yang sangat tinggi sehingga menyebabkan banjir, sedangkan daerah satunya mengalami kekeringan yang luar biasa. Yang menakutkan peristiwa El Nino dan La Nina tidak dapat dihindari akan tetapi dapat terdeteksi, sehingga negara-negara yang berada di sekitar samudera pasifik sebaiknya melakukan persiapan untuk mitigasi bencana.
Departemen Teknik Geodesi, Institut Teknologi Bandung
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat